BERITAACUAN.COM. PANGKALPINANG- Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, mendorong PT PLN (Persero) untuk mengoptimalkan pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Air Anyir Bangka. Sisa pembakaran batu bara tersebut kini dinilai berpotensi besar diolah menjadi pupuk murah bernilai ekonomi tinggi.
“Yang namanya FABA yang tadinya merupakan residu, ternyata bisa kita gunakan untuk pupuk. Hasilnya bagus dan biaya pemupukannya murah,” kata Bambang di PLTU Air Anyir Bangka.
Bambang menilai pemanfaatan FABA sebagai bahan baku pupuk telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Saat ini, Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (Formap) di Bangka Belitung telah memproduksi sekitar 16 ton pupuk berbahan FABA per hari. Oleh karena itu, ia meminta agar program ini ditingkatkan ke skala nasional dan tidak hanya berhenti pada tahap uji coba.
Ia juga berharap PLN dapat berperan sebagai “orang tua asuh” dalam membantu proses standardisasi dan legalitas produk.
“Kalau kita bisa urus SNI-nya, sehingga menjadi terstandarisasi, kemudian bisa dikembangkan di tempat-tempat lain di Indonesia,” ujarnya. Menurut Bambang, inovasi ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular karena mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah yang mendukung pemberdayaan masyarakat dan ketahanan pangan.
Bambang menegaskan agar pemanfaatan FABA sebagai pupuk ini juga direplikasi di PLTU wilayah lain, seperti di Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan.
PLN Siap Jadikan Bangka Belitung Percontohan Nasional
Merespons dorongan tersebut, Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo, menyambut positif potensi pengolahan FABA untuk sektor pertanian. PLN berkomitmen untuk membawa praktik terbaik dari Bangka Belitung ke seluruh unit pembangkit di Indonesia.
“Kami akan menjadikan apa yang dilakukan oleh PLN Babel ini sebagai percontohan dan kami akan copy hal ini juga di pembangkit-pembangkit kami di seluruh Indonesia,” jelas Rizal pada kesempatan yang sama.
Selama ini, pemanfaatan FABA lebih dominan digunakan untuk bahan bangunan dan konstruksi seperti conblock dan batako. Namun, ditemukannya formula pengolahan FABA bersama bahan organik menjadi pupuk membuka peluang baru untuk memperkuat ekosistem pertanian di sekitar wilayah PLTU.
“Selama ini kan hanya untuk konstruksi saja. Ternyata ini bisa untuk mendukung ketahanan pangan. Artinya ini peluang yang besar sekali bagi masyarakat sekitar untuk menikmati FABA menjadi sebuah komoditas yang bernilai tinggi,” pungkas Rizal.














