BERITAACUAN.COM– Sebanyak 28 calon penumpang maskapai Super Air Jet rute Pangkalpinang (PGK) menuju Jakarta Soekarno-Hatta (CGK) gagal berangkat pada Kamis (2/4). Puluhan pelanggan tersebut dinyatakan no show gateatau tidak hadir di ruang tunggu sesuai dengan waktu keberangkatan yang telah ditentukan.
Corporate Communications Strategic of Super Air Jet, Danang Mandala Prihantoro, memberikan klarifikasi resmi mengenai insiden tersebut. Menurutnya, langkah ini diambil demi menjaga ketertiban, ketepatan waktu (On-Time Performance), serta keselamatan penerbangan.
Berdasarkan data operasional dan rekaman CCTV di bandara, pihak maskapai membeberkan urutan waktu kejadian sebagai berikut:
Corporate Communications Strategic of Super Air Jet, Danang Mandala Prihantoro, mengatakan, dalam penerbangan domestik, ruang tunggu keberangkatan ditutup tepat 10 menit sebelum jadwal keberangkatan pesawat. Setelah batas waktu tersebut, pelanggan tidak lagi dapat masuk
ke pesawat, meskipun telah memiliki boarding pass.
“Ketentuan ini berlaku untuk menjaga ketertiban, ketepatan waktu, serta keselamatan penerbangan,” kata Danang dalam keterangan,Jumat 3 April 2026.
Danang menjelaskan, berdasarkan data operasional dan rekaman CCTV bandara, diketahui Pelanggan mulai tiba di bandara sejak pukul 06.31 WIB, namun proses check-in sebagian besar rombongan baru dilakukan pada pukul 07.13 WIB atau mendekati waktu keberangkatan.
Proses boarding telah dimulai pada pukul 07.27 WIB dan pengumuman keberangkatan dilakukan pada pukul 07.32 WIB. Pada pukul 07.46 WIB, pelanggan masih berada di area luar pintu keberangkatan bandara.
Sementara, pelanggan baru mulai masuk ke area pemeriksaan keamanan pada pukul 07.47 WIB dan masih berlangsung hingga setelah pukul 08.00 WIB. Kemudian ruang tunggu ditutup pada pukul 07.58 WIB sesuai ketentuan, sementara seluruh pelanggan baru tiba di ruang tunggu pada pukul 08.07 WIB
Berdasarkan waktu aktual tersebut, pelanggan belum berada di ruang tunggu sebelum batas waktu penutupan karena masih berada di area luar bandara maupun dalam proses pemeriksaan keamanan.
Selama proses berlangsung, petugas telah memberikan arahan secara langsung agar pelanggan segera menuju ruang tunggu, menyampaikan informasi terkait batas waktu keberangkatan, serta membantu
mencarikan alternatif penerbangan lanjutan sesuai ketersediaan.
“Sesuai ketentuan penerbangan domestik, pintu ruang tunggu ditutup tepat 10 menit sebelum jadwal keberangkatan. Setelah batas waktu tersebut, pelanggan tidak lagi dapat masuk ke pesawat meskipun telah memiliki boarding pass,” ujar Danang dalam keterangan tertulisnya.
Pihak Super Air Jet menegaskan bahwa selama proses tersebut, petugas di lapangan telah berupaya memberikan arahan langsung agar pelanggan segera menuju ruang tunggu. Selain itu, petugas juga telah membantu mencarikan alternatif penerbangan lanjutan bagi pelanggan yang tertinggal, sesuai dengan ketersediaan kursi.
“Super Air Jet memahami bahwa setiap perjalanan memiliki arti penting bagi pelanggan. Untuk itu, kami
mengimbau seluruh pelanggan agar datang lebih awal, melakukan check-in lebih awal, dan segera menuju ruang tunggu setelah mendapatkan boarding pass, guna memastikan perjalanan dapat berjalan lancar
sesuai jadwal,” pungkasnya.
Berita sebelumnya, Perwakilan santri dan orang tua melaporkan pihak maskapai Super Air Jet ke Mapolda Kepulauan Bangka Belitung. Pasalnya sebanny 29 santri asal Bangka Belitung gagal berangkat menuju Jakarta menggunakan maskapai Super Air Jet, padahal mereka telah mengantongi tiket dan boarding pass resmi.
Peristiwa bermula saat rombongan yang berjumlah total 72 santri hendak berangkat dari Bandara Depati Amir, Pangkalpinang menuju Bandara Soekarno-Hatta. Muhammad Farhan, salah satu perwakilan rombongan, menjelaskan bahwa 43 santri berhasil masuk ke dalam pesawat, namun 29 lainnya tertahan di gerbang keberangkatan (gate).
“Kronologinya pas di gate kami ditahan. Alasannya katanya karena kami terlambat, padahal boarding pass baru saja dikasih oleh pihak maskapai,” ujar Farhan saat
memberikan keterangan di Mapolda.
Farhan menambahkan bahwa pihak penjaga gate sempat meminta mereka berkonsultasi dengan atasan atau melapor kembali ke maskapai, namun upaya komunikasi tersebut tidak membuahkan hasil.
“Sudah mencoba komunikasi, tapi tidak ada respons sama sekali dari mereka,” tegasnya.
Akibat insiden ini, rombongan santri terpaksa menjadwalkan ulang penerbangan dan harus membeli tiket baru untuk keberangkatan keesokan harinya. Farhan menaksir total kerugian materiil mencapai angka Rp100 juta.
“Data kerugian tiket sekitar Rp70 juta. Tapi kalau ditotal dengan biaya transportasi wali santri yang datang dari jauh, makanan, dan lain-lain, ya sekitar Rp100 juta,” jelas Farhan.















