BERITAACUAN.COM.PANGKALPINANG — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji melalukan rangkaian kunjungan kerjanya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Setelah sebelumnya meninjau Bangka Tengah, peninjauan kini berfokus di Kota Pangkalpinang untuk memastikan intervensi langsung bagi Keluarga Risiko Stunting (KRS).
Melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), BKKBN memprioritaskan penanganan pada sektor sanitasi, akses air bersih, hingga perbaikan kualitas hunian bagi keluarga yang memiliki balita atau berada dalam fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Ukuran keberhasilan penanganan stunting itu ada di 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Kalau balita usia di bawah dua tahun tertangani dengan baik, insya Allah selamat dari stunting. Sebab jika sudah terlanjur stunting, yang bisa disembuhkan secara medis hanya sekitar 20 persen. Karena itu, pendekatan pencegahan sebelum terjadi stunting harus kita berikan solusinya, termasuk masalah hunian,” ujar Menteri BKKBN saat meninjau tiga lokasi sasaran di Pangkalpinang.
Untuk mempercepat bantuan tanpa terhambat aturan birokrasi anggaran negara, BKKBN menggandeng pihak swasta, BUMN, hingga sektor perbankan sebagai orang tua asuh. Salah satunya adalah PT Timah yang langsung menyalurkan bantuan fisik kepada warga penerima manfaat tanpa melalui perantara kementerian.
Skema orang tua asuh ini dinilai menjadi solusi cepat bagi warga yang tinggal di kawasan rawan bencana namun terbentur kelengkapan administrasi seperti sertifikat tanah, yang kerap menjadi kendala pencairan APBN maupun APBD.
“Saya pernah jadi kepala daerah, jadi paham betul kalau pakai APBN atau APBD syaratnya rumit, harus ada sertifikat dan sebagainya. Tapi masa gara-gara tidak ada sertifikat lalu negara tidak hadir? Tentu tidak adil. Lewat program orang tua asuh, syaratnya lebih fleksibel namun bantuan tetap tepat sasaran,” tegasnya.
Secara nasional, BKKBN menargetkan pencapaian program orang tua asuh menyasar 1 juta Keluarga Risiko Stunting pada tahun ini. Hingga pertengahan tahun, realisasi program telah menembus lebih dari 50 persen, mencakup bantuan fisik perbaikan gizi dan hunian, hingga edukasi non-fisik bagi masyarakat.














