BERITAACUAN.COM.PANGKALPINANG — DPD Banteng Muda Indonesia (BMI) Provinsi Bangka Belitung bersama DPD PDI Perjuangan menggelar acara Malam Renungan Peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli) di Pangkalpinang. Acara ini diisi dengan orasi kebangsaan, pembacaan puisi, serta kilas balik perjuangan guna mengingatkan generasi muda akan pentingnya menjaga serta merawat nilai-nilai demokrasi.
Ketua DPD BMI Bangka Belitung, Bayi Hardiyanto, menegaskan bahwa kebebasan berpendapat dan iklim politik yang damai saat ini lahir dari tumpah darah para pejuang demokrasi dalam tragedi Kudatuli 28 tahun silam. Menurutnya, peristiwa sejarah tersebut memakan korban 5 orang meninggal dunia dan 132 orang hilang yang hingga kini belum tuntas penyelesaian kasus pelanggaran HAM-nya.
“Malam ini bukan sekadar acara seremonial. Kita mendengarkan puisi dan orasi agar kita tetap ingat untuk merawat demokrasi di Bangka Belitung dan Indonesia. Demokrasi hari ini terjadi karena adanya perjuangan dari saudara-saudara kita. Kita tidak boleh lupa,” tegas Bayi.
Sekretaris Jenderal BMI Babel, Rais Abdila, menambahkan bahwa semangat Kudatuli mengajarkan bahwa demokrasi tidak hanya berfokus pada kebebasan menyampaikan pendapat, melainkan juga menyangkut tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan, keadilan, dan kepatuhan terhadap konstitusi.
“Setiap warga negara berhak berpartisipasi dan menyampaikan aspirasi. Namun, semua itu harus dilakukan dengan cara yang baik, saling menghormati, serta berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan UDK 1945,” ujar Rais.
Menolak Lupa Sejarah Penindasan Orde Baru
Perwakilan DPD PDI Perjuangan Babel, Riski, turut membeberkan dinamika sejarah di balik meletusnya peristiwa 27 Juli 1996. Ia mengingatkan bahwa intervensi dan penindasan rejimen Orde Baru terhadap PDI kala itu melahirkan perlawanan gigih dari para kader.
Ia juga meyakinkan pihak kepolisian yang hadir bahwa aksi mengumpulkan anak muda ini merupakan langkah positif dalam memupuk kesadaran berbangsa.
“Anak-anak muda yang hadir malam ini adalah pemuda Indonesia yang sangat memikirkan masa depan demokrasi kita. Cerita kelam Kudatuli tidak boleh terulang kembali. Bangsa kita memiliki kedaulatan dan kebebasan berbicara yang harus dijaga sepanjang masa,” ungkap Riski.
Pemkot Pangkalpinang Apresiasi Inisiatif Pemuda
Hadir mewakili Pemerintah Kota Pangkalpinang, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Desy Ayutrisna (Ce Ce Desy), mengapresiasi tinggi terselenggaranya kegiatan renungan sejarah ini. Ia berpesan agar prinsip “Jasmerah”(Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) terus dipegang oleh generasi muda sebagai fondasi melangkah ke depan.
“Jadikan sejarah Kudatuli sebagai pembelajaran untuk mengisi demokrasi dengan cara yang santun, merangkul, dan tidak merusak. Mari kita bersama-sama merawat situasi yang kondusif agar Kota Pangkalpinang dan Provinsi Bangka Belitung semakin maju,” tutur Desy.















