BERITAACUAN.COM — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (BI Babel) terus berupaya menahan laju inflasi, khususnya yang bersumber dari kelompok bahan pangan bergejolak (volatile foods), melalui sinergi bersama pemerintah daerah dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Kepala BI Babel, Rommy S. Tamawiwy, mengatakan berbagai langkah konkret telah dilakukan guna menjaga stabilitas harga, terutama pada periode hari besar keagamaan seperti Imlek, Ramadan, dan Idulfitri 1447 Hijriah.
“Berbagai upaya pengendalian inflasi terus kami lakukan, baik dalam jangka pendek maupun menengah-panjang, melalui sinergi dengan pemerintah daerah,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (2/4/2026).
Dalam jangka menengah hingga panjang, BI Babel mendorong kemandirian produksi pangan, khususnya pada komoditas yang memiliki kontribusi besar terhadap inflasi. Program tersebut diwujudkan melalui pemberdayaan klaster pangan binaan yang mencakup aspek manajemen, produksi, hingga pemasaran.
Selain menjaga ketahanan pangan daerah, program ini juga diharapkan dapat mendukung kebijakan strategis pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), seiring meningkatnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bangka Belitung.
Rommy menambahkan, tantangan pengendalian inflasi ke depan masih akan dihadapi. Namun, dengan optimisme, komitmen, dan sinergi bersama pemerintah daerah serta instansi terkait, inflasi diyakini dapat tetap terjaga dalam kisaran target nasional.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik menunjukkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan (month-to-month) dan 1,87 persen secara tahunan (year-on-year).
Kepala BPS Bangka Belitung, Sugeng Arianto, menyebut angka inflasi tahunan tersebut masih berada dalam sasaran target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen, serta lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,48 persen (yoy).
“Bangka Belitung juga tercatat sebagai daerah dengan inflasi tahunan terendah kedua secara nasional,” kata Sugeng.
Secara bulanan, inflasi dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terutama komoditas cumi-cumi, udang, dan daging ayam ras. Sementara secara tahunan, inflasi didorong oleh kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, khususnya emas perhiasan yang mengikuti tren kenaikan harga global.
Meski demikian, Sugeng menambahkan bahwa tekanan harga pada komoditas pangan utama selama periode hari besar keagamaan tahun ini relatif lebih terkendali dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.















