BERITAACUAN.COM.PANGKALPINANG — Praktisi keuangan dan certified financial planner, Elvi Diana, mengingatkan pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta masyarakat luas. Hal tersebut disampaikannya dalam rangkaian kegiatan edukasi keuangan yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Minggu (18/10/2026).
Dalam pemaparannya, Elvi menyoroti sejumlah prinsip dasar perencanaan keuangan yang kerap diabaikan oleh masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Salah satu poin paling fundamental adalah keharusan memisahkan antara dana operasional usaha dengan keuangan pribadi.
“Paling prinsipal dan sederhana sekali, setiap keluarga atau pribadi harus memisahkan dana kelolaannya, baik untuk bisnis, wirausaha, maupun urusan pribadi. Selain itu, masyarakat wajib memiliki dana darurat,” ujar Elvi.
Ia mencontohkan, bagi seseorang atau pelaku UMKM dengan pendapatan Rp10 juta per bulan, alokasi sebesar 30% dari pendapatan tersebut wajib disisihkan sebagai dana darurat yang disimpan di perbankan maupun instrumen investasi aman seperti emas. Dana darurat ini krusial untuk mengantisipasi risiko tak terduga, seperti anggota keluarga yang sakit di tengah keterbatasan fasilitas atau pembiayaan kesehatan yang tidak sepenuhnya ditanggung BPJS.
Tantangan Ekonomi Masyarakat Desil 1 sampai 5
Elvi mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini berada pada kelompok masyarakat dalam kategori desil 1 hingga 5, yang mencakup sekitar 47,2% penduduk di Bangka Belitung. Kelompok ini dinilai sangat rentan terhadap fluktuasi harga kebutuhan pokok dan memiliki kebiasaan finansial “gali lubang tutup lubang”.
Selain itu, ia juga mengingatkan para pelaku usaha pemula agar tidak terjebak euforia sesaat ketika usahanya mulai mendatangkan keuntungan.
“Hasil keuntungan jangan membuat pelaku usaha euphoria atau fomo—ingin ganti handphone baru atau motor baru. Padahal usaha masih berproses dan belum stabil untuk konsumsi pribadi,” tegasnya.
Di tengah kemudahan akses teknologi finansial saat ini, Elvi juga memperingatkan bahaya penggunaan pinjaman daring (pinjol) ilegal atau konsumtif bagi generasi muda dan pelaku UMKM yang tidak diimbangi dengan literasi memadai.
Harapan untuk OJK dan Industri Keuangan
Sebagai bentuk dukungan nyata, Elvi mendorong OJK bersama lembaga jasa keuangan untuk tidak hanya berfokus di perkotaan, melainkan aktif “jemput bola” hingga ke tingkat kecamatan, kelurahan, dan perdesaan di Bangka Belitung. Pendampingan ini dinilai penting karena sebagian masyarakat masih memiliki rasa canggung atau kendala literasi teknologi saat harus mendatangi kantor bank secara langsung.
Menanggapi capaian indeks literasi keuangan Bangka Belitung yang dinilai menempati posisi terbaik di wilayah Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel), Elvi memberikan catatan kritis agar prestasi tersebut linier dengan kondisi riil di lapangan.
“Keaktifan OJK Babel adalah potensi yang baik. Namun, harus dilihat juga datanya secara komprehensif, apakah masyarakat sudah benar-benar terbebas dari rentenir dan pinjol ilegal, serta bagaimana tingkat kredit macetnya. Literasi yang tinggi harus sejalan dengan kesejahteraan masyarakat yang tumbuh bersama,” pungkasnya.
Melalui kegiatan maraton edukasi ini, Elvi berharap sinergi antara regulator, perbankan, dan masyarakat dapat memperkuat ketahanan ekonomi daerah serta mendorong pertumbuhan UMKM di Kepulauan Bangka Belitung secara berkelanjutan.














