Dari Produk Lokal MenujuPasar Global, UMKM Babel Didorong Berani Menembus Ekspor

Senin, 31 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BERITAACUAN.COM.PANGKALPINANG-Memiliki produk yang unik belum cukup untuk membawa usaha lokal menembuspasar dunia. Pelaku usaha juga harus mampu menjagakualitas, memenuhi standar pasar, memahami prosedurekspor, hingga membangun kapasitas usaha yang berkelanjutan.

Pesan itu mengemuka dalam Talkshow Ekspor bertemaPeluang dan Pengembangan Ekspor Produk UnggulanDaerah yang digelar di Main Stage Alun-alun Kota Pangkalpinang, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebutmenjadi side event Explore Babel 2026 sekaligus bagian darirangkaian Kick Off Peluncuran Program Desa Devisa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kegiatan ini merupakanbentuk kolaborasi dan sinergi antara Kanwil DJPb ProvinsiBabel, Kemenkeu Satu Babel, LPEI dan juga Perwakilanbank Indonesia Provinsi Babel.

Talkshow diikuti pelaku UMKM yang memiliki potensi ekspor, kalangan akademisi dan mahasiswa, serta perwakilanpemerintah dan berbagai lembaga terkait. Forum inimempertemukan perspektif pembiayaan dan pendampinganekspor, aspek kepabeanan, hingga pengalaman langsungpelaku usaha lokal yang telah berhasil menjangkau pasar internasional.

Diskusi dimoderatori Dr. Eka Fitriyanti, Anggota Bidang VI Fiskal, Moneter, Investasi, dan Keuangan Syariah IkatanSarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bangka Belitung.

Tiga narasumber hadir dengan perspektif berbeda. Indonesia Eximbank/Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) diwakili Nilla Meiditha, Kepala Departemen Jasa KonsultasiIndonesia Eximbank. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menghadirkan Romy Windu Sasongko, Kepala Seksi Fasilitas Impor Tujuan Ekspor Pengembalian DJBC. Sementara pengalaman dari sisi pelaku usaha disampaikanLukman Nuhung, local hero sekaligus pelaku ekspor dariBangka Belitung.

Dalam paparannya, Nilla Meiditha mengangkat persoalanyang kerap dihadapi UMKM ketika ingin memasuki pasar ekspor. Tantangannya bukan hanya bagaimanamendapatkan pembeli, melainkan juga bagaimanamempersiapkan usaha agar memiliki kapasitas yang sesuaidengan tuntutan pasar internasional.

LPEI memberikan dukungan kepada pelaku usahaberorientasi ekspor melalui layanan finansial maupunnonfinansial. Dukungan tersebut antara lain pembiayaan, penjaminan, asuransi, jasa konsultasi, business matching, Coaching Program for New Exporters (CPNE), hinggaProgram Desa Devisa yang menggunakan pendekatancommunity development (pemberdayaan masyarakat).

Melalui pendekatan tersebut, pelaku usaha tidak semata-mata diarahkan untuk segera melakukan transaksi ekspor. Kesiapan usaha dibangun secara bertahap, mulai darikapasitas produksi, kualitas dan spesifikasi produk, manajemen bisnis, kemampuan finansial, hingga pemetaanpotensi pasar.

Program Desa Devisa sendiri dirancang sebagai program pemberdayaan komunitas bagi petani, pengrajin, koperasi, maupun UKM yang memiliki produk unggulan berorientasiekspor. Pendampingannya meliputi penguatan kelembagaan, pelatihan teknis, sertifikasi produk, perluasan akses pasar dan pameran dagang, hingga dukungan sarana produksi. Tujuan akhirnya adalah peningkatan ekspor, devisa, dan kesejahteraan masyarakat.

Pesan yang mengemuka adalah bahwa ekspor bukan proses instan. Sebelum berhadapan dengan pembeli internasional, pelaku usaha perlu lebih dahulu memastikan produknyakonsisten, kapasitas produksinya mencukupi, dan organisasiusahanya siap tumbuh.

Perspektif berikutnya datang dari DJBC. Romy Windu Sasongko mengupas sisi yang sering kali dianggap rumitoleh pelaku UMKM, yakni ketentuan kepabeanan dan fasilitasi di bidang ekspor.

Dalam paparannya, pelaku usaha diperkenalkan pada prinsipdasar pelayanan kepabeanan ekspor. Eksportir perlumemastikan barang memenuhi ketentuan larangan dan pembatasan apabila ada, menyelesaikan kewajibanpungutan negara jika dikenakan, serta menyampaikanPemberitahuan Ekspor Barang atau PEB.

Proses tersebut juga membutuhkan kelengkapan dokumen. Dalam alur pelayanan kepabeanan ekspor, dokumen sepertiinvoice, packing list, dan perizinan yang dipersyaratkanmenjadi bagian penting sebelum barang dapat memperolehpelayanan ekspor. Penyampaian PEB kemudian diprosesmelalui sistem kepabeanan hingga penerbitan Nota Pelayanan Ekspor sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pemahaman mengenai prosedur tersebut menjadi pentingbagi UMKM. Sebab, produk yang sudah memiliki calonpembeli di luar negeri tetap membutuhkan kesiapanadministratif sebelum benar-benar dapat meninggalkandaerah pabean Indonesia. Dengan kata lain, keberanianmemasuki pasar global harus disertai dengan kemampuanmemahami aturan main.

Talkshow semakin dekat dengan realitas pelaku usaha ketikaLukman Nuhung membagikan pengalamannya sebagai local hero eksportir Bangka Belitung.

Cerita yang dibawanya menunjukkan bahwa peluang eksportidak selalu berasal dari komoditas bernilai tinggi atau produkberteknologi tinggi. Produk yang terlihat sederhana pun dapatmemiliki pasar jika mampu menjawab kebutuhan konsumeninternasional. Salah satunya adalah daun ketapang atauCatappa leaf.

Daun yang mudah dijumpai di kawasan tropis itu ternyatadigunakan dalam pasar khusus, terutama oleh penghobiakuarium ikan hias, reptil, dan vivarium. Produk alamitersebut memiliki permintaan di sejumlah negara di Eropa, Asia, dan Amerika.

Potensi pasarnya mencakup distributor akuarium, pet shop, importir produk reptil, komunitas aquascape, hinggamarketplace. Dalam bahan paparan Lukman, sejumlahnegara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Jerman, Australia, Kanada, dan Belanda disebut sebagai pasar yang terbuka untuk produk daunketapang yang memenuhi standar. Namun, cerita tersebutsekaligus memperlihatkan satu pelajaran penting: pasar ekspor membeli kualitas, bukan sekadar produk.

Pengalaman tersebut menjadi contoh konkret bahwa peluangekspor dapat lahir dari potensi yang selama ini berada di sekitar masyarakat. Nilai ekonominya muncul ketika pelakuusaha mampu membaca kebutuhan pasar, menjaga mutu, serta mengolah potensi tersebut menjadi produk yang sesuaidengan standar pembeli.

Talkshow Ekspor menjadi kelanjutan dari momentum peluncuran Program Desa Devisa Provinsi KepulauanBangka Belitung pada rangkaian utama Explore Babel 2026 sehari sebelumnya (28-08-2026).

Program Desa Devisa di Bangka Belitung diarahkan untukmengembangkan sejumlah komoditas unggulan daerah, yakni lada, lidi nipah dan kerajinan lidi nipah, serta olahanhasil perikanan atau hasil laut. Penetapan ke 48 (empatpuluh delapan) desa dalam program tersebut merupakanbagian dari upaya membangun ekosistem ekspor sekaligusmemperkuat daya saing produk unggulan daerah agar semakin terbuka menuju pasar internasional.

Karena itu, keberadaan talkshow bukan sekadar melengkapiseremoni peluncuran Desa Devisa. Forum tersebut menjadisalah satu ruang pembelajaran agar pelaku usahamemperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perjalananmenuju pasar global.

Di satu sisi, ada LPEI yang menyiapkan pembiayaan, peningkatan kapasitas dan pendampingan. Di sisi lain, DJBC memberikan pemahaman mengenai prosedur serta fasilitasiekspor. Pengalaman local hero kemudian memperlihatkanbahwa seluruh teori tersebut dapat diterjemahkan menjadipraktik bisnis nyata.

Keterlibatan ISEI sebagai moderator turut menjembataniperspektif akademis dengan pengalaman praktis pelakuusaha dan kebijakan pemerintah. Kehadiran mahasiswa dan akademisi juga memperluas diskusi ekspor sebagai bagiandari pengembangan ekonomi daerah, tidak terbatas pada persoalan perdagangan semata.

Kolaborasi antara Kementerian Keuangan, Indonesia Eximbank/LPEI, Bank Indonesia, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, serta berbagai lembaga terkait menjadipenting karena membangun eksportir tidak dapat dilakukanoleh satu institusi.

Pelaku usaha membutuhkan pasar. Namun, mereka juga membutuhkan pengetahuan, pendampingan, pembiayaan, regulasi yang dipahami, jejaring, dan keberanian untukmemulai.

Dari Bangka Belitung, perjalanan menuju pasar dunia itu kinimulai dibangun dari desa, dari UMKM, bahkan dari potensi-potensi sederhana yang sebelumnya mungkin tidak pernahdibayangkan memiliki pembeli di luar negeri.

Sebab, ketika kualitas bertemu dengan peluang pasar dan didukung ekosistem yang tepat, produk lokal tidak lagi hanyamenjadi kebanggaan daerah. Ia dapat tumbuh menjadikomoditas yang berbicara di pasar global.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Gubernur Hidayat Arsani Bawa Pemprov Babel Raih Penghargaan Manajemen Talenta BKN
DPKP Bangka Belitung Gelar Sosilasisasi dan Bimtek SDM Perkebunan Kelapa Sawit
Target Operasi 2028, Pemprov Matangkan Realisasi Interkoneksi Kelistrikan Sumatera-Bangka Tahap II
Kanwil DJPb Babel Ajak Stakeholder Berperan Aktif Tingkatkan Kualitas Layanan
Digelar di OROM Sungailiat, 450 Atlet Ikuti Kerjurprov PBSI Bangka Belitung
BPS: Penumpang Udara dan Laut yang Datang ke Babel Naik pada Juli 2026
Kunjungan Wisnus Babel Juli 2026 Turun Tipis, Jumlah Tamu Menginap Justru Naik 3,81 Persen
Tingkat Pengangguran Terbuka Bangka Belitung Naik, Capai 4,21 Persen

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 21:19 WIB

Gubernur Hidayat Arsani Bawa Pemprov Babel Raih Penghargaan Manajemen Talenta BKN

Kamis, 3 September 2026 - 21:12 WIB

DPKP Bangka Belitung Gelar Sosilasisasi dan Bimtek SDM Perkebunan Kelapa Sawit

Rabu, 2 September 2026 - 19:25 WIB

Target Operasi 2028, Pemprov Matangkan Realisasi Interkoneksi Kelistrikan Sumatera-Bangka Tahap II

Rabu, 2 September 2026 - 19:22 WIB

Kanwil DJPb Babel Ajak Stakeholder Berperan Aktif Tingkatkan Kualitas Layanan

Selasa, 1 September 2026 - 19:06 WIB

BPS: Penumpang Udara dan Laut yang Datang ke Babel Naik pada Juli 2026

Berita Terbaru