PANGKALPINANG — Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Ricky P. Gozali, menyoroti pentingnya diversifikasi dan peningkatan nilai tambah produk lokal untuk memperkuat ketahanan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Hal tersebut disampaikannya dalam pembukaan perhelatan Explore Babel ke-6 yang mengusung tema “Harmoni Serumpun Sebalai Menuju Babel Berdaya dan Berkelanjutan”.
Ricky menilai tema tahun ini sangat tepat karena mencerminkan falsafah lokal Serumpun Sebalai, di mana keberagaman dipersatukan dalam satu tujuan. Menurutnya, potensi ekonomi daerah dapat menghasilkan dampak yang besar apabila seluruh pemangku kepentingan—mulai dari pemerintah, pelaku usaha, perbankan, komunitas, hingga masyarakat—bergerak secara selaras dan harmonis.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II/2026 tetap mencatatkan kinerja yang solid sebesar 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, ekonomi Bangka Belitung tumbuh sebesar 4,01% (yoy) dengan laju inflasi pada Juli 2026 yang terkendali di angka 2,62% (yoy), masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional.
Meski capaian ini patut disyukuri, Ricky mengingatkan adanya pesan penting dari struktur pertumbuhan ekonomi Babel saat ini. Sektor konstruksi, penyediaan akomodasi, makan-minum, serta kinerja pertanian dan perdagangan—khususnya komoditas kelapa sawit dan perikanan—menjadi penopang utama. Di sisi lain, sektor pertimahan dan ekspor komoditas unggulan masih menghadapi tantangan tersendiri.
“Karena itu, diversifikasi dan peningkatan nilai tambah bukan lagi suatu pilihan, tapi merupakan suatu kebutuhan,” ujar Ricky, Jumat.
Lebih lanjut, Ricky menegaskan bahwa Bangka Belitung memiliki modal ekonomi yang sangat kuat, mulai dari kekayaan alam, potensi pariwisata, kreativitas masyarakat, hingga keberadaan lebih dari 132.000 UMKM. Berbagai produk lokal seperti olahan hasil laut, lada, kerajinan tangan, fashion, hingga tenun cual memiliki cerita dan identitas yang khas.
Tantangan utama saat ini, menurutnya, adalah mendorong agar potensi-potensi tersebut dapat naik kelas secara berkelanjutan.
“Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut naik kelas. Kualitasnya konsisten, kemasannya kuat, mudah dibayar secara digital, memperoleh pembiayaan, dan menjangkau pasar yang lebih luas,” pungkasnya.














